Peringati Hari Tuberkulosis Sedunia, RSUD Andi Sulthan Daeng Radja Edukasi Pasien tentang Bahaya TB

Avatar

HARAPAN-BARU.NET, Bulukumba – Telatnya di halaman pelayanan RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba pada Senin, 16 Maret 2026, terasa berbeda dari biasanya. Di antara lalu-lalang pasien dan keluarga yang menunggu panggilan layanan, sebuah percakapan tentang harapan dan kesehatan mulai bergema.

Hari itu, rumah sakit milik daerah tersebut menggelar penyuluhan kesehatan dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia, sebuah momentum global untuk mengingatkan dunia bahwa penyakit lama ini masih menjadi bayang-bayang bagi banyak masyarakat.

BACA JUGA:  Sekda Ali Saleng Tegaskan: Bulukumba Sudah Berada di Jalur yang Benar dalam Pengelolaan Anggaran
Di ruang tunggu yang biasanya dipenuhi kegelisahan, para pasien dan keluarga duduk lebih tenang. Mereka mendengarkan dengan saksama penjelasan dari dokter spesialis paru, dr. Hamka, yang hadir memberikan edukasi langsung tentang penyakit tuberkulosis (TB)—penyakit menular yang masih menjadi tantangan kesehatan di berbagai wilayah.

Dengan bahasa yang sederhana namun tegas, dr. Hamka menguraikan bagaimana TB menyerang paru-paru, menular melalui udara, dan sering kali datang dengan gejala yang tampak sepele.

BACA JUGA:  Andi Utta Pimpin Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2025 di Bulukumba
Batuk berkepanjangan, demam yang tak kunjung reda, hingga penurunan berat badan menjadi tanda-tanda yang tidak boleh diabaikan.

“Melalui penyuluhan ini kami ingin meningkatkan pemahaman masyarakat tentang tuberkulosis, sehingga masyarakat tidak takut untuk memeriksakan diri dan menjalani pengobatan sampai tuntas,” ujarnya.

Penjelasan itu mengalir seperti cahaya yang membuka tabir kekhawatiran. Para peserta terlihat antusias mengikuti setiap bagian materi.

BACA JUGA:  Arraya Aulia, Putri Bulukumba, Sukses Lolos Tes Karate Tahap Pertama di Cibubur
Beberapa pasien bahkan mengangkat tangan, mengajukan pertanyaan tentang cara pencegahan hingga pentingnya disiplin dalam menjalani pengobatan TB.

Di tengah dinamika diskusi tersebut, pihak rumah sakit menegaskan bahwa edukasi kesehatan adalah bagian penting dari pelayanan publik. Humas dan PKRS rumah sakit, Andi Abhy, menyampaikan harapannya agar kegiatan seperti ini mampu membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya deteksi dini penyakit.

Menurutnya, tuberkulosis bukan sekadar penyakit medis, melainkan persoalan sosial yang membutuhkan pemahaman bersama. Ketika masyarakat berani memeriksakan diri sejak gejala awal dan menjalani pengobatan hingga tuntas, rantai penularan dapat diputus.

“Diharapkan dengan adanya penyuluhan kesehatan ini, masyarakat semakin memahami bahaya tuberkulosis serta pentingnya menjaga kesehatan dan segera memeriksakan diri jika mengalami gejala,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Bupati Bulukumba Tekankan Kekompakan RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Demi Pelayanan Pasien Lebih Baik
Di balik kegiatan sederhana itu, tersimpan pesan yang jauh lebih besar: bahwa pengetahuan adalah vaksin pertama bagi masyarakat.

Di ruang tunggu rumah sakit itu, harapan tentang hidup yang lebih sehat perlahan tumbuh—seperti cahaya pagi yang menembus jendela, menyentuh wajah-wajah yang sedang menunggu kabar baik tentang kesehatan mereka.